Kisah mengenai peranan peranakan Tionghoa dalam perjalanan bangsa ini sangat banyak, dalam sejarah perjalanan bangsa mulai dari jaman kerajaan Hindhu-Buddha, perjuangan kemerdekaan, hingga kini peranan peranakan Tionghoa tidak bisa dilupakan. Meski sempat tenggelam perannya karena represi rezim orde baru, di bidang politik kalangan peranakan Tionghoa pun sempat banyak mewarnai perpolitikan negeri ini.
Salah satu tokoh Tionghoa adalah Tan Kiem Liong, nama ini mungkin kurang banyak dikenal karena nama yang sering digunakan adalah nama arabnya yaitu Hadji Muhammad Hassan yang sempat menjadi menteri Keuangan, Pendapatan dan Pengawasan dalam Kabinet Djuanda tahun 1957. Uniknya keturunan Tionghoa ini menjadi menteri dari latar belakang Partai Nahdlatul Ulama (NU) –yang saat itu masih berbentuk partai politik- partai yang memiliki basis masyarakat Islam tradisional dan pesantren. Tokoh peranakan Tionghoa kelahiran Kalimantan ini sempat menjadi wartawan harian Suluh Indonesia yang berafiliasi dengan PNI. Berpindah ke harian Duta Masjarakat, harian resmi milik NU hingga menjadi general manager di sana. Baca entri selengkapnya »











Paulo Freire adalah salah satu pemikir penting dan berpengaruh mengenai teori pendidikan pembebasan abad ke-20. Fokusnya pada peran pendidikan dalam perjuangan kaum tertindas dicirikan dalam meramu dan mengawinkan konsep-konsep pendidikan yang sangat praktis untuk dikerjakan dalam rangka menuntaskan kebodohan di Brazil. Dengan komitmen politik dan pandangan radikalnya yang bersatu dalam kesederhanaan hidupnya, intelektual yang sangat mengesankan, menjadikan seorang Paulo Freire tetap konsisten dalam memperjuangkan hak-hak pendidikan masyarakat tertindas.