PMII UGM – Komisariat Gadjah Mada

Mewarisi Tradisi – Mewujudkan Transformasi – Menatap Kejayaan Indonesia

Kisah Tan Kiem Liong, Peranakan Tionghoa Mantan Menteri dari Partai NU serta Bank Nusumma dalam Relasi NU dan Tionghoa

Posted by pmiiugm pada 26 Januari 2012

Kisah mengenai peranan peranakan Tionghoa dalam perjalanan bangsa ini sangat banyak, dalam sejarah perjalanan bangsa mulai dari jaman kerajaan Hindhu-Buddha, perjuangan kemerdekaan, hingga kini peranan peranakan Tionghoa tidak bisa dilupakan. Meski sempat tenggelam perannya karena represi rezim orde baru, di bidang politik kalangan peranakan Tionghoa pun sempat banyak mewarnai perpolitikan negeri ini.

Salah satu tokoh Tionghoa adalah Tan Kiem Liong, nama ini mungkin kurang banyak dikenal karena nama yang sering digunakan adalah nama arabnya yaitu Hadji Muhammad Hassan yang sempat menjadi menteri Keuangan, Pendapatan dan Pengawasan dalam Kabinet Djuanda tahun 1957. Uniknya keturunan Tionghoa ini menjadi menteri dari latar belakang Partai Nahdlatul Ulama (NU) –yang saat itu masih berbentuk partai politik- partai yang memiliki basis masyarakat Islam tradisional dan pesantren. Tokoh peranakan Tionghoa kelahiran Kalimantan ini sempat menjadi wartawan harian Suluh Indonesia yang berafiliasi dengan PNI. Berpindah ke harian Duta Masjarakat, harian resmi milik NU hingga menjadi general manager di sana. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ekonomi, Sejarah-Biografi, Sosial-Politik | Tinggalkan sebuah Komentar »

Refleksi Diriku, Bangsaku dan Bangsanya Minke

Posted by pmiiugm pada 8 Januari 2012

Pada zaman yang terkutip dalam tulisan Pram, banyak pemuda yg segar bugar dan terpelajar tak kenal bangsanya, bagiku bisa dimaklumi, karena bangsa itu sendiri belum jelas dan belum pernah dijelaskan. Tapi sekarang, dlm kejelasan yg tertuang dalam berbagai macam UU yg berdaulat, masih juga aku tak mengenal sesungguhnya bangsaku sendiri, aku hanya tahu permukaannya bahwa ia sakit, tanpa tahu urut-urutan datangnya penyakit itu bagaimana. Mencoba mengajak beberapa teman untuk bicara dan beberapa diantaranya malah menganggap bahwa bangsa ini baik-baik saja. Terjerat kemilau ilmu pengetahuan dan beberapa terpukau pada militansi organisasinya sendiri.

apakah bedanya, aku tidak menyebut semua pemuda, hanya beberapa yang ku kenal.

 Jaman itu, untuk berorganisasi saja begitu susah, sekarang kalau kita mau kita bisa ikut sepuluh organisasi sekaligus, keluar masuk seenaknya, sayang sekali kalau kesempatan akan kebebasan ini tidak digunakan semestinya. banyak yang mengatakan kita kebanyakan diskusi tanpa aksi, tapi diskusi adalah aksi itu sendiri kan? untuk membangun kesadaran, tanpa kesadaran segala bentuk aksi dan kontribusi hanyalah euforia pragmatis belaka, dan kadang hanya bentuk konformitas saja.

Oleh : Nurul Ulfah Puji Lestari

Ditulis dalam Sastra | Tinggalkan sebuah Komentar »

Syi’ir Tanpo Waton (Gus Dur)

Posted by pmiiugm pada 7 Januari 2012

أَسْتَغْفِرُ اللهْ رَبَّ الْبَرَايَا     *    أَسْتَغْفِرُ اللهْ مِنَ الْخَطَايَا
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعَا     *       وَوَفِّقْنِي عَمَلاً صَالِحَا
ياَ رَسُولَ اللهْ سَلاَمٌ عَلَيْكْ      *    يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ الدَّرَجِ
عَطْفَةً يَّاجِيْرَةَ الْعَالَمِ      *      يَا أُهَيْلَ الْجُودِ وَالْكَرَمِ

Ngawiti ingsun nglaras syi’iran …. (aku memulai menembangkan syi’ir) 
Kelawan muji maring Pengeran …. (dengan memuji kepada Tuhan)

Kang paring rohmat lan kenikmatan …. (yang memberi rahmat dan kenikmatan)

Rino wengine tanpo pitungan 2X …. (siang dan malamnya tanpa terhitung)
Duh bolo konco priyo wanito …. (wahai para teman pria dan wanita)

Ojo mung ngaji syareat bloko …. (jangan hanya belajar syari’at saja)

Gur pinter ndongeng nulis lan moco … (hanya pandai bicara, menulis dan membaca) Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Keagamaan, Syair Pergerakan | Tinggalkan sebuah Komentar »

Haul Sang Guru Bangsa: Melanjutkan Estafet Perjuangan, Mewujudkan Demokratisasi Substansial

Posted by pmiiugm pada 2 Januari 2012

SLEMAN- Pada Jumat, 30 Desember 2011 kemarin, PC PMII Sleman menyelenggarakan acara Doa Kebangsaan dan Refleksi Kebangsaan Akhir Tahun 2011 dengan tema “Menggagas Demokrasi Berkeadilan Untuk Kemakmuran Rakyat”. Acara ini bertempat di Masjid Ibnu Sina, Fakultas Kedokteran UGM. Acara ini merupakan puncak acara dari rangkaian acara Peringatan 2 Tahun Wafatnya Sang Guru Bangsa (Gus Dur) yang diselenggarakan oleh PC PMII Sleman.


Acara dimulai dengan penampilan Kelompok Hadrah PMII Cabang Sleman yang menampilkan lagu shalawat. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Pembukaan. Dalam sambutannya, Sahabat Mochammad Said –Ketua Umum PC PMII Sleman- yang sekaligus mewakili panitia menyampaikan bahwa acara tersebut merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan kepada bapak-guru bangsa Indonesia, yaitu almarhum Gus Dur, yang gagasan, pemikiran, dan praksisnya telah menginspirasi sahabat-sahabat/i PMII Cabang Sleman. “Kami juga ingin menunjukkan bahwa di Yogyakarta –khususnya di UGM dan UNY yang merupakan basis pengkaderan PMII Cabang Sleman- terdapat banyak anak muda yang terilhami dan bertekad untuk melanjutkan estafet perjuangan yang telah digagas dan dilakukan oleh Gus Dur”, lanjutnya. Selain itu, ia menambahkan bahwa lewat Refleksi Kebangsaan dalam acara ini, diharapkan kaum muda –khususnya mahasiswa- mendapatkan sebuah spirit optimisme untuk bergerak bersama memperbaiki kondisi bangsa Indonesia ke depan, tanpa memandang latar belakang golongan, etnis, maupun agama. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Informasi Kegiatan, Sosial-Politik | Tinggalkan sebuah Komentar »

Merumuskan Masa Depan, Memaknai Islam dan Pancasila

Posted by pmiiugm pada 2 Januari 2012

Islam, sebagai agama, haruslah dibedakan secara tegas dengan apa yang disebut pemikiran keislaman. Karena ketidakmampuan dalam membedakan kedua hal tersebut mengakibatkan kesalahan –dan bahkan penyalahgunaan- pemahaman ajaran Islam. Sebagai contoh, dalam kaitannya dengan politik, Islam –oleh sebagian kelompok- dijadikan alat untuk melakukan politisasi agama dengan jargon khilafah Islamiyyah dan semacamnya, yang pada intinya ingin mendirikan sebuah negara dengan ideologi Islam. Padahal, terdapat perbedaan antara “negara agama” –yaitu negara pada zaman Nabi SAW yang selalu dibimbing oleh wahyu- dan “negara politik” –yaitu negara pada zaman setelah Nabi SAW wafat yang kebijakan-kebijakannya didasarkan pada penafsiran/penalaran atas teks Al-Qur’an dan Al-Hadits, sehingga bisa dikatakan sebagai produk pemikiran manusia, bukannya wahyu yang turun langsung dari Tuhan.

Hal tersebut disampaikan oleh Irwan Masduqi, Lc –alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, dan staf pengajar Ponpes As-Salafiyyah, Mlangi, Sleman- dalam Diskusi Publik “Masa Depan Relasi Islam dan Pancasila” yang diadakan oleh PC PMII Sleman pada Rabu, 28 Desember 2011, di Ruang Kutilang, Wisma KAGAMA UGM, pukul 13.00-16.00 WIB. Dalam acara ini hadir pula 2 pembicara lain, yaitu Dr. Abdul Gaffar Karim –dosen Politik dan Pemerintahan FISIP UGM- dan Nur Kholik Ridwan –peneliti pemikiran Islam dan penulis buku Gus Dur dan Pancasila. Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian acara Peringatan 2 Tahun Wafatnya Sang Guru Bangsa dengan tema “Merajut Kebersamaan dalam Menggapai Cita-cita Bangsa dalam Bingkai Pancasila”. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Informasi Kegiatan, Keagamaan | Tinggalkan sebuah Komentar »

PAULO FREIRE DAN STAGNANSI GERAKAN MAHASISWA

Posted by pmiiugm pada 5 Desember 2011

Oleh: Raden Mz Jay Mangku Proletariat*

Siapakah Paulo Freire?
Paulo Freire adalah salah satu pemikir penting dan berpengaruh mengenai teori pendidikan pembebasan abad ke-20. Fokusnya pada peran pendidikan dalam perjuangan kaum tertindas dicirikan dalam meramu dan mengawinkan konsep-konsep pendidikan yang sangat praktis untuk dikerjakan dalam rangka menuntaskan kebodohan di Brazil. Dengan komitmen politik dan pandangan radikalnya yang bersatu dalam kesederhanaan hidupnya, intelektual yang sangat mengesankan, menjadikan seorang Paulo Freire tetap konsisten dalam memperjuangkan hak-hak pendidikan masyarakat tertindas.

Paulo Freire lahir pada tanggal 19 September 1921 di Recife, sebuah kota pelabuhan di timur laut Brazil. Terlahir dari kalangan keluarga yang demokratis, menghargai dialog yang kelak mempengaruhi juga pola pemikiran Freire. Kehidupan orang tua Freire tergolong kelas menengah, namun sering kekurangan finansial sehingga Freire benar-benar tahu arti kata lapar. Ketika kanak-kanak, Freire bersumpah untuk membaktikan hidupnya untuk melawan kelaparan, membela kaum miskin. Anak-anak lain tidak boleh merasakan penderitaan seperti yang pernah dialaminya. Meskipun tidak berasal dari kalangan keluarga yang berpunya, Freire berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Hukum, Universitas Recife. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Pendidikan | Tinggalkan sebuah Komentar »

Jar…Jar….Duuaar!!!

Posted by pmiiugm pada 24 November 2011

Saya adalah pelajar

Tugas saya adalah belajar

Saya adalah pelajar

Tugas saya adalah belajar

Saya adalah pelajar

Tugas saya adalah belajar

Lalu kapan saya merubah bangsa?

Ya setelah selesai belajar!

………

Jangan lupa berkoar-koar!

 

Oleh: Staf Media PMII Komisariat Gadjah Mada

Ditulis dalam Sastra | 1 Komentar »